Home Info Propaganda Media oleh Kelompok Kriminal Senjata/OPM

Propaganda Media oleh Kelompok Kriminal Senjata/OPM

126

KKB atau OPM menembak mati seorang tukang ojek, Yanmar (42 tahun), pada 2 November 2018 dengan dalih bahwa mereka mencurigainya sebagai mata-mata polisi Indonesia. Padahal, korban hanyalah seorang migran biasa dari Sulawesi, Indonesia.

OPM dibawah pimpinan Purom Wenda melarang warga mengevakuasi mayat korban dan menjadikan korban sebagai perangkap untuk menyerang polisi.

Tahu bahwa TNI dan Polri akan turun pada 3 November 2018, OPM menjadikan momen evakuasi Yanmar sebagai momen untuk menyerang TNI dan Polri yang mengakibatkan baku tembak selama 7 jam di Popome, Papua.

Hasilnya tim gabungan TNI dan Polri Indonesia berhasil merebut dua senjata api yang sempat dirampas OPM dan dua anak buah OPM Purom Wenda tewas.

Tidak berhenti sampai disitu, aktivis OPM turut berbicara ke media internasional (bukan media lokal) untuk menarik simpati masyarakat internasional. Selain itu, banyak juga media internasional seperti NYTimes, Asianeconomist, sbs.com.au, dan juga RadioNZ yang memberitakan hal terkait Papua dengan mengandalkan narasumber yang tidak terbukti kevalidan datanya. Berikut ini adalah fakta-fakta yang salah yang disebarkan oleh media internasional:

1. Data Palsu Nelson Wenda di RadioNZ

Di media RadioNZ dan Asianeconomist, Nelson Wenda mengaku sebagai representatif PMI, menyatakan bahwa ribuan orang Papua bersembunyi di hutan karena pertikaian antara OPM dan TNI-Polri. Nelson menyatakan bahwa mereka tidak memiliki makanan yang cukup, tapi takut kembali ke rumah karena takut terkena dampak pertikaian.

Tanpa mengklarifikasi kevalidan sumber informasi tersebut, RadioNZ mempublikasikan berita. Padahal, tidak ada satu pun berita lokal yang mengandung pernyataan palsu Nelson Wenda. Jika memakai logika, tidak mungkin media lokal (Jubi dan Cendrawasih Pos) dan media sosial di Indonesia buta untuk melihat data palsu Nelson Wenda.

Kode etik PMI di www.pmi.or.id jelas menyatakan bahwa komunikasi atau informasi dengan pihak luar Gerakan secara terbuka tanpa batas dapat membahayakan keamanan PMI, sebab dapat disalahgunakan untuk propaganda atau dapat menimbulkan citra bahwa Gerakan adalah organisasi yang memihak.

Juga informasi mengenai warga desa yang berlarian dan sembunyi ke dalam hutan selama terjadinya kontak senjata TNI-Polri vs OPM. Jelas bahwa alasan OPM/KSB bersembunyi di dalam hutan adalah agar sulit ditemukan oleh TNI-Polri. Membawa angka ‘ribuan’ warga ikut bersembunyi di hutan sungguh tidak masuk akal karena artinya warga justru mendekati area konflik, bukan menjauhi. Bisakah Nelson Wenda dan RadioNZ memberikan bukti dari pernyataan berlebihan ini?

Mungkin Nelson Wenda lupa bahwa baru saja pada 3 Oktober lalu OPM/KSB menyandera 16 orang tenaga medis dan pengajar di Mapenduma.

2. Militer Membakar Rumah

Nelson Wenda juga menyebutkan bahwa 7 orang Papua terbunuh di Puncak jaya bulan lalu. Dan bahwa militer Indonesia membunuh babi milik warga dan membakar rumah mereka. Nelson juga menyatakan bahwa PMI telah membangun 60 tenda bagi yang tidak bisa kembali di rumah.

Namun, fakta di lapangan bahwa KKB/OPM-lah yang menjadi pelaku dalam pembakaran rumah warga seperti yang terjadi di desa Banti pada 2 April 2018 lalu. Selain itu, OPM juga mengakui aksi pembakaran markas brimob dan markas pendulang emas di Tembagapura pada bulan November tahun 2017.

Apakah Nelson Wenda lupa bahwa Indonesia bukan negara bar-bar, bahkan Indonesia telah terbukti terpilih sebagai anggota tidak tetap dewan keamana PBB untuk keempat kalinya. Selain itu pertanggungjawaban militer sebagai penjaga keamanan dan kedaulatan suatu negara amatlah besar. Misalnya seperti hukuman yang paling parah yang diberikan kepada militer seperti yang terjadi di tahun 2005, bahwa militer yang melakukan pembunuhan akan divonis hukuman mati sebagai efek jera bagi anggota militer lain.

3. Mata-Mata Tukang Ojek

Media lain turut pula memberikan justifikasi bahwa kematian 2 anggota OPM, anak buah Purom Wenda terjadi akibat kelompok OPM Purom Wenda membunuh seorang tukang ojek yang disinyalir sebagai mata-mata polisi.

Kenyataannya bahwa korban bernama Yanmar memang benar-benar seorang tukang ojek dan sedang bekerja mengantar penumpang. Juga tidak ada warga sipil lain yang terbunuh selain tukang ojek yang menjadi korban dari penembakan.

Mayat Yanmar bahkan dijadikan jebakan oleh OPM untuk menyerang TNI-Polri saat mereka melakukan proses evakuasi.

Tahukah media luar bahwa sekarang jenazah Yanmar sudah berada di Wamena dan dijadwalkan jenazah tukang ojek akan dievakuasi ke Makassar melalui Jayapura pada 4 November 2018.

Jika kasus serupa terjadi di negara simpatisan Free West Papua yang termakan data palsu, apakah militer negara akan diam saja sementara kelompok separatis bersenjata membuat ulah dengan menyandera, membunuh, dan menyerang orang?

Media asing pun buta memakan data dari narasumber tidak jelas dan memperkeruh keadaan. Sesulit itukah bagi media asing untuk memvalidasi datanya dengan melihat pemberitaan di media lokal online Indonesia?

Jika media asing membutuhkan bantuan dalam mencari data, berikut ini adalah daftar media yang dapat dijadikan sumber pemberitaan bagi media luar untuk mendapatkan data yang valid terkait apa yang terjadi di Papua.

Share Now!