Kasus penganiayaan diduga dilakukan oleh oknum anggota Polres Merauke terhadap tiga orang warga pada Sabtu, 24 November 2018. Berita yang beredar menyebutkan bahwa aparat kepolisian melakukan penyerangan dan penganiayaan terhadap warga sehingga menyebabkan warga tertembak dan mengalami luka-luka. Kejadian bermula saat adanya seseorang tidak dikenal dengan sepeda motor membawa kampak di komplek RSUD Merauke. Masyarakat langsung menyerang oknum tersebut karena memang sedang marak terjadi penculikan anak. Untuk itu, polisi mendatangi TKP, namun justru mendapatkan serangan dari warga.

Pada saat kejadian, Kabag Ops (Kepala Bagian Operasional) Polres Merauke AKP Leonardo Yoga, SIK bersama anggotanya berjumlah 8 orang mendatangi TKP (Tempat Kejadian Perkara). Namun ketika Kabag Ops tengah melakukan dialog dengan warga tiba-tiba datang massa kurang lebih 40 orang yang diduga dipengaruhi oleh minuman keras dengan membawa senjata tajam melakukan provokasi terhadap masyarakat lainnya. Mereka menuding polisi bekerjasama dengan penculik tadi dan menyuruh petugas kepolisian untuk mundur atau kembali.

Menyikapi hal tersebut, petugas kepolisian berusaha menenangkan massa namun tidak berhasil sehingga massa sangat sulit dikendalikan kemudian menyerang petugas dan kendaraan dinas Kabag Ops polres Merauke secara brutal, yang mengakibatkan mobil dinas yang dikendarai Kabag Ops ini pun rusak akibat dilempari warga yang brutal serta empat anggota lainnya mengalami luka akibat diserang warga.

Atas peristiwa itu menurut Kapolres Bahara Marpaung, sebanyak 27 orang telah diamankan untuk diinterogasi lebih lanjut “Langkah-langkah yang telah kepolisian ambil terkait peristiwa tersebut terjadi adalah menerima laporan, mendatangi tempat kejadian, membawa para korban ke RSUD Merauke, mengamankan 27 orang pemuda bersama barang bukti terkait perusakan mobil milik Kabag Ops dan penyerangan terhadap anggota, serta meminta keterangan beberapa saksi yang berada di sekitar tempat kejadian tersebut.” Jelas Kapolres Bahara Marpaung.

Tuduhan atas penganiayaan yang dilakukan oleh oknum Polisi tersebut tidaklah berdasar sebab polisi yang tengah melakukan pengamanan justru diserang warga akibat provokasi yang dilakukan warga yang dipengaruhi minuman keras. Terkait berita hoax yang beredar Polres Merauke akan melakukan penyelidikan terhadap warga yang menyebarkan berita hoax di media sosial tersebut yang menyebabkan masyarakat resah.

Kebanyakan berita hoax di kabupaten merauke, disangkutpautkan dengan perjuangan Papua merdeka yang berlindung dibalik tembok HAM. Terkait dengan konflik yang terjadi, Kapolres Merauke AKBP Bahara Marpaung menegaskan “Jangan mudah percaya dengan hoax yang terjadi di media sosial maupun masyarakat terkait dengan dengan penculikan anak tersebut. Karena sampai sekarang ini, belum ada satupun warga yang melaporkan anggota keluarganya atau anaknya diculik seseorang, kami anggap informasi penculikan anak tersebut adalah hoax” tegas AKBP Bahara Marpaung. Kapolres Bahara Marpaung menghimbau kepada seluruh masyarakat papua dan khususnya masyarakat kabupaten Merauke agar tidak mudah terprovokasi dan diadu-domba oleh penyebar hoax, justru harus bersatu untuk bersama-sama melawan hoax.

Sources:
http://www.marjinnews .com/2018/11/beda-fakta-kronologi-kasus-penembakan-anggota-pmkri-oleh-oknum-polisi-di-marauke.html

Share Now!