Nicolaas Jouwe adalah seorang putra Papua yang sempat bersumpah tidak akan menginjakkan kaki di Papua lagi akhirnya kembali ke tanah kelahirannya pada Maret 22, 2009. Nicolaas yang telah hidup di Belanda sejak 1963, kembali ke Papua setelah mendapat undangan spesial dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk kembali pulang ke Indonesia. Nicolaas bahkan menutup mata pada September 16, 2017, di kampung halamannya dengan Bintang Jasa Nararya tersemat di dada.

Bagi generasi Indonesia saat ini, nama Nicolaas Jouwe mungkin bukanlah nama yang pernah mereka dengar. Nicolaas adalah tokoh utama di balik Bendera Bintang Kejora; yang selama ini ikut mewarnai konflik the Papua Armed Separatists dengan Pemerintah Indonesia. “Sayalah yang membuat Bendera Bintang Kejora, yang pertama kali dikibarkan pada December 1, 1961,” tulis Nicolaas dalam bukunya “Kembali ke Indonesia: Langkah, Pemikiran, dan Keinginan”.

Nicolaas yang lahir di Hollandia (Jayapura) pada November 24, 1924, ini merupakan lulusan sekolah pamong praja yang didirikan oleh Jan Pieter Karel van Eechoud. Sekolah inilah yang menghasilkan elite terdidik Papua seperti Frans Kasiepo, Markus Kasiepo, Silas Papare, Elieser Jan Bonay, Lukas Roemkorem, hingga Abdullah Arfan. Elite terdidik Papua ini kemudian pecah menjadi tiga orientasi politik yaitu: pro-Papua Merdeka pro-Belanda, pro-Papua Merdeka anti-Belanda, dan pro-Indonesia. Nicolaas termasuk dalam golongan pertama.

Sebenarnya, Nicolaas Jouwe sempat ikut dalam Komite Indonesia Merdeka (KIM) bentukan Dr JA Gerungan di Hollandia pada 1945 namun partai tersebut kemudian berubah menjadi Partai Indonesia Merdeka. Kemudian pada 1946, Konferensi Denpasar tidak menyertakan wakil dari Papua padahal konferensi itu sendiri menghasilkan Negara Indonesia Timur; negara boneka Belanda yang berlokasi di Papua.

Nicolaas pun berubah menjadi anti-Indonesia dan mulai membentuk rasa nasionalisme Papua. Kemudan Nicolaas terpilih menjadi wakil presiden Dewan Nugini (Nieuw Guinea Raad). Saat itu, Nicolaas berjuang agar semua pihak menghormati hak-hak orang Papua untuk menentukan nasibnya sendiri sebagai bangsa merdeka.

Nicolaas pun membuat Bendera Bintang Kejora dan bendera ini kemudian terpilih menjadi bendera Papua Barat. Pada December 1, 1961, bendera tersebut untuk pertama kalinya dikibarkan di samping bendera Belanda. Tanggal ini kemudian diperingati sebagai berdirinya Negara Papua Barat yang diakui otoritas Belanda.

Proses politik berlanjut melewati Perjanjian New York. Papua akan diserahkan Belanda ke Indonesia melalui lembaga PBB bernama UNTEA. Setelah Papua diserahkan ke UNTEA pada Oktober 1962 dan enam bulan kemudian diserahkan ke Indonesia, Jouwe meninggalkan Papua dan pergi ke Belanda. Mengetahui hal itu, Nicolaas pun pindah ke Delft, Belanda. Dia pun bersumpah tidak akan pernah kembali ke Papua jika masih “diduduki” Indonesia.

Hingga usianya yang ke-84, Nicolaas masih bersikeras untuk tidak kembali ke Papua. Namun pada 2009, sebuah surat spesial datang. Surat dari Presiden ke-7 Indonesia, Susilo Bambang Yushoyono (SBY), tersebut diantarkan oleh putra-putri Papua: Fabiola Ohei, Ondofolo (Kepala Adat) Frans Albert Yoku, Nicolas Simoen Meset (pilot lulusan Institut Teknik Bandung), dan Pendeta Adolf Hanasbey. Dalam surat tersebut, SBY mengundang Nicolaas untuk kembali ke tanah kelahirannya.

Nicolaas begitu tersentuh dengan surat yang ditulis oleh SBY tersebut. Baginya surat tersebut merupakan sebuah ajakan yang tulus dan ditulis dengan bahasa yang sangat halus. Teringat di dalam pikirannya sebuah ayat Injil yang menyebutkan bahwa “yang lembut hatinya akan mewarisi bumi”. Nicolaas pun menemui Duta Besar Republik Indonesia untuk Belanda, Fanie Habibie, dan keduanya segera akrab seperti saudara.

“Saya telah menyadari bahwa yang diperjuangkan selama ini merupakan pilihan yang salah. Kini saya melihat bahwa perhatian pemerintah Indonesia dan kondisi politik sudah berbeda terhadap Papua,” Nicolaas Jouwe menyebutkan. “Saya akan kembali selama-lamanya di Papua, Indonesia. Sekali Indonesia merdeka, tetap merdeka. Saya mesti pulang, pulang dengan hati gembira.”

Damarjati, Danu. (December 15, 2018). Nicolaas Jouwe: Muda Bikin Bintang Kejora, Tua Dukung NKRI.

Share Now!