Home Papua Only Aktivis Free Papua Meminta TNI/Polri Ditarik dari Nduga, Ini Kata Gubernur Papua

Aktivis Free Papua Meminta TNI/Polri Ditarik dari Nduga, Ini Kata Gubernur Papua

19

Pada 25 Desember 2018, Ones Nesta Suhuniap, seorang mahasiswa asal Papua yang belajar di Yogyakarta mengunggah sebuah status di akun Facebook pribadinya. Dengan mengatasnamakan seluruh pelajar dan mahasiswa Papua di Yogyakarta, Ones menuntut pihak Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian Republik Indonesia (POLRI) yang menurutnya telah menyebabkan ratusan korban berjatuhan.

Yogyakarta, 25 Desember 2018
1. Kami dari Pelajar dan Mahasiswa dan Papua Yogyakarta mengutuk keras tindakan kekerasan TNI/Polri di Nduga, Papua, yang menyebabkan ratusan korban yang kemudian akan berjatuhan.
2. Kami dari Pelajar dan Mahasiswa Papua Yogyakarta mendukung penuh pernyataan Gubernur Papua Lukas Enembe dan Ketua DPR Provinsi Papua Yunus Wonda untuk menuntut agar Negara Indonesia segera tarik TNI/Polri yang ada di Nduga selambat-lambatnya dalam bulan Januari dan segera berikan perlindungan terhadap warga sipil di Nduga.
3. Kami dari Pelajar dan Mahasiswa Papua mengajak dan menyerukan kepada seluruh lapisan masyarakat dari 7 wilayah adat di Papua untuk segera mendukung pernyataan Gubernur Papua Lukas Enembe dan Ketua DPR provinsi Papua, Yunus Wonda.
Tarik militer sekarang juga.
Militerisme lawan, Kawan, lawan!

Status yang dilengkapi Ones menggunakan video pernyataan sekelompok mahasiswa itu juga menyatakan dukungannya kepada Gubernur Papua, Lukas Enembe, dan Ketua DPR Provinsi Papua, Yunus Wonda, agar segera menarik TNI/POLRI dari Nduga, Papua, selambat-lambatnya pada Januari 2019.

Namun rupanya, pernyataan Ones dan teman-temannya tidak berdasar. “Kami dari Pelajar dan Mahasiswa dan Papua Yogyakarta mengutuk keras tindakan kekerasan TNI/Polri di Nduga, Papua, yang menyebabkan ratusan korban yang kemudian akan berjatuhan.” TNI dan Polri melalui pernyataan Kepala Penerangan Komando Daerah Militer VII/Cenderawasih, Muhammad Aidi, telah sering menegaskan bahwa TNI dan Polri hanya mengusut dan menegakkan keadilan atas penyekapan dan penembakan terhadap pekerja konstruksi jalan Trans-Papua di Nduga. Mereka tidak melakukan operasi militer apa pun, apalagi berupaya menewaskan ratusan orang.

Pernyataan kedua Ones, “Kami dari Pelajar dan Mahasiswa Papua Yogyakarta mendukung penuh pernyataan Gubernur Papua, Lukas Enembe dan Ketua DPR Provinsi Papua, Yunus Wonda untuk menuntut agar Negara Indonesia segera tarik TNI/Polri yang ada di Nduga selambat-lambatnya dalam bulan Januari dan segera berikan perlindungan terhadap warga sipil di Nduga” juga ternyata tidak sesuai dengan himbauan Gubernur Lukas Enembe. Saat menghadiri Perayaan Natal Jemaat Eden Sian Sori pada 25 Desember 2018, Gubernur Lukas justru menyampaikan kepada masyarakat Papua untuk bersuka cita dan mengajak masyarakat yang masih bertentangan ideologi dengan NKRI untuk segera menyamakan persepsi.

“Saya mengajak mereka untuk kembali menyatukan persepsi untuk kesatuan dan persatuan bangsa demi kemajuan bersama. Berhentilah berbuat aksi yang dianggap bertentangan, turunkan senjata, dan mari kita bersama bangun Papua untuk kesejahteraan, kemandirian, dan kemajuan tanah ini,” Lukas Enembe menjelaskan.

Gubernur Lukas juga mengutuk kejadian penembakan yang menewaskan 17 pekerja konstruksi jalan Trans Papua pada 2 Desember lalu. “Kepada saudara kita yang melakukan penyerangan itu, kami kutuk karena perbuatan mereka telah melanggar hukum Tuhan bahkan Undang-undang.” Lukas juga menyebutkan bahwa penyelesaian tindakan pembantaian di Nduga itu merupakan tanggung jawab dan tugas pokok TNI/POLRI.

Kolonel Inf Muhammad Aidi, Tim Satuan Tugas TNI-Polri di Papua, mengungkapkan bahwa kehadiran pasukan TNI-Polri di Papua bukan untuk menakuti apalagi membunuh masyarakat Papua. Kehadiran militer Indonesia murni untuk melakukan pengejaran pada kelompok separatis bersenjata yang melakukan pembantaian terhadap 17 orang pekerja jembatan Trans Papua.

“Jadi rakyat tidak perlu merasa terganggu atas kehadiran TNI-Polri di Mbua dan Yigi Kompleks. Yang merasa terganggu adalah mereka para pelaku kejahatan yang berlumuran dosa telah membantai warga sipil yang tidak berdaya,” kata Aidi.

https://m.facebook .com/story.php?story_fbid=116106756100934&id=100031048299107

Share Now!