Home Info Kisah Serdadu Kecil di Kepulauan Yapen, Papua

Kisah Serdadu Kecil di Kepulauan Yapen, Papua

20

Ini adalah sebuah kisah yang dibawa oleh De Rizky Maulana, seorang pengajar muda yang mengabdi di tanah Papua. Selamat datang di kisahnya, semoga kamu bisa mengambil inspirasi darinya.

Ibaratnya pendidikan itu yang ngebentuk manusia menjadi manusia. Pendidikan itu nggak cuma belajar di dalam kelas. Pendidikan itu proses. – De Rizky Kurniawan

Perkenalkan aku De Rizky Maulana, seorang jajaka Bandung yang menetap satu tahun di Kampung Ampimoi, Kabupaten Yapen, Papua. Aku tergabung jadi pengajar muda di Indonesia Mengajar. Sebuah gerakan menempatkan sarjana di tempat-tempat terpencil di Indonesia untuk diperbantukan menjadi guru selama satu tahun. Sebelum bergabung di indonesia mengajar, aku baru lulus kuliah dan pernah bergabung menjadi bagian Lembaga Badan Hukum di Bandung.

Keputusan menjadi guru adalah keputusan yang sedikit mengejutkan dan kurang bisa dipercaya. Karena di kalangan teman aku terkenal sebagai orang yang gila teknologi dan internet. Saat tahu aku ditempatkan di Papua, hal yang mereka pikirkan adalah “lo kuat? Paling sebulan juga nangis”. Aku dengan bangga memperkenalkan sebagai pengajar muda pertama yang ditempatkan di Ampimoi.

Butuh waktu 2 hari untuk menjangkau lokasi penempatanku. Penerbangan dari jakarta ke Biak saja sudah membutuhkan waktu sekitar 5 jam 45 menit, dari Biak ke Serui aku baru bisa naik pesawat selama 45 menit di hari berikutnya. Dari Serui ke Ampimoi butuh waktu sekitar 2 jam naik perahu melalui teluk Cendrawasih. Barulah sampai ke kampung tempatku mengajar.

Akses memang menjadi tantangan yang berat, komunikasi dengan daerah lain bukan perkara yang mudah. Namun dengan keterbatasan ini, aku berusaha untuk membuktikan pada keluargaku di Pulau Jawa, kalau aku bisa mengabdi di Papua.

Disini, aku mengajar anak-anak kelas 3-6 SD Ampimoi, Kabupaten Kepulauan Yapen, Papua. Bermain sambil belajar adalah cara yang baik untuk menentukan metode belajar. Aku memanfaatkan ketersediaan alam yang mampu membantuku menemukan minat belajar mereka tentu saja tidak dalam kondisi formal.

Aku mengajak anak murid ke hutan bakau. Tujuannya adalah untuk mengajari anak-anak ini sebuah pelajaran pemanfaatan bakau. Anak-anak ini besar di alam. Karena itulah aku berpikir alam bisa menjadi guru. Anak-anak yang aku ajar adalah anak-anak yang suka praktikal karena mereka lahir di tengah keluarga yang terbiasa melakukan hal-hal praktis.

Permasalahan di Ampimoi cukup kompleks, sebagai daerah yang terletak dekat tanjung, Yapen banyak ditanami bakau. Tujuannya adalah untuk menyangga agar tidak terjadi pengikisan atau abrasi pantai. Kebanyakan warga di Ampimoi menggunakan tanaman bakau sebagai kayu bakar atau dijadikan bahan untuk membuat rumah. Jika kondisi ini terus dibiarkan, mungkin saja 20-30 tahun lagi bakau akan habis. Skenario terburuknya, pulau Yapen akan terkikis dan lama-lama menjadi hilang. Melalui praktis di alam, aku berharap mereka dapat mengerti dan memahami pelajaran ini.

Hidupku selama di Papua tidak pernah sepi. Anak-anak pasukan serdadu Ampimoi selalu menemani kemanapun langkahku pergi.
“Pak Guru tidak boleh sendirian, Pak Guru mari kita temani kemana bapak pergi” Kata-kata itu terus terngiang di telingaku.

Ceritaku harus segera berakhir saat setahun kemudian masa tugasku di Ampimoi berakhir. Aku ingat saat harus membagikan raport anak-anak. Sekaligus menjadi hari terakhirku di Ampimoi. Aku ingat bagaimana saat awal aku datang, anak-anak itu kesulitan untuk membaca dan menulis. Tahu huruf pun tidak. Butuh kesabaran untuk melihat mereka berprestasi. Aku tahu itu. Namun, saat pembagian raport kusadari bagaimana anak-anak ini berubah. Kini mereka banyak mengenal huruf, pun membaca dan menulis. Kini mereka bisa merangkai kata menjadi baris kalimat dan bacaan. Aku sebagai guru, turut bangga dengan kemajuan itu.

“Jadi saya jujur saja, dulu sebelum ada bapak guru awalnya anak saya tidak bisa baca. Saat pulang ia ceritera sudah diajar baca. Ternyata benar, anak saya sekarang sudah bisa baca juga menulis, itu perubahan yang saya lihat” John Paiki, orang tua murid

Hasil memang tidak pernah mengkhianati proses, dan aku percaya itu. Senang rasanya melihat wali murid sudah mulai peduli mengenai pendidikan. Semoga ke depannya anak-anak Yapen dapat lebih maju di tangan pengajar muda lain.

Perpisahan ini semakin sedih rasanya saat warga kampung Ampimoi berkumpul dan membuatkan aku sebuah hajat pesta perpisahan. Haru rasanya saat kedatanganku ke Yapen mendapat sambutan hangat dan saat dilepaskan prosesinya berlangsung menyenangkan dan penuh tangis haru.

Anak-anak itu banyak memberikan persembahan, pun warga yang menyuguhkanku tari-tarian. Walaupun berat rasanya harus meninggalkan kampung Ampimoi, aku meninggalkan kampung ini dengan hati tenang pun bangga. Anak-anak yang kuajar telah menumbuhkan banyak potensi untuk Kepulauan Yapen juga Papua. Setiap pesan tertitip untukku, serta apresiasi yang diberikan padaku, akan selalu kuingat.

Semoga nanti, silaturahmi kami tetap terjalin. Suatu saat, aku akan kembali mengunjungi Yapen. Mengunjungi kembali serdadu kecilku yang lucu-lucu.

Diambil dari kisah De Rizky Maulana, Pengajar Muda untuk program Indonesia Mengajar di Papua.
Sumber: https://www.youtube .com/watch?v=wlhg0D71O0Q&t=975s

Share Now!