Home Papua Only Separatis Papua Mogok Makan Nasi, Menyulitkan Petani Padi Lokal

Separatis Papua Mogok Makan Nasi, Menyulitkan Petani Padi Lokal

6

Seorang aktivis separatis Papua, Victor Yeimo, dengan nada rasis mengajak pendukungnya untuk berhenti makan nasi sebagai bentuk perlawanan terhadap “penjajahan” Indonesia, yang mayoritas populasinya adalah orang Jawa. Victor menuding nasi sebagai alat tipu daya suku Jawa untuk menghilangkan identitas Papua yang mengonsumsi ubi dan sagu sebagai makanan pokok. Ia mengatakan bahwa ia hanya akan makan nasi bila sudah ada beras hasil sawah orang Papua. Victor sepertinya belum tahu bahwa ada pertanian padi di Merauke, Papua. Padahal, Victor tercatat sebagai Sekretaris Umum organisasi separatis Komite Nasional Papua Barat (KNPB), yang sepatutnya memahami situasi di lapangan.

Ya, Merauke adalah daerah penghasil beras di Papua. Dari sekitar 34.000 hektar lahan pertanian padi, 3.400 hektar diantaranya dikelola oleh masyarakat lokal sendiri, di luar korporasi maupun bulog. Pertanian beras ini kemudian memasok beras ke daerah-daerah di Indonesia, dan mungkin nanti ke luar negeri. Di luar pertanian padi ini, Papua masih mengonsumsi ubi, sagu, dan hasil bumi lokal lainnya, bahkan mengekspornya ke dalam maupun luar negeri seperti Papua Nugini.

Nasi dianggap oleh Victor sebagai bentuk kolonisasi, karena menciptakan ketergantungan bagi warga Papua atas beras. Victor menganjurkan agar warga Papua mengkonsumsi pangan lokal seperti ubi, maupun buah-buahan seperti nanas dan pisang sebagai pengganti nasi. Sayangnya, ini akan menyulitkan dan tidak produktif bagi warga Papua, karena mengurangi alternatif makanan pokok, serta menghambat ekonomi Papua yang mulai maju.

Victor merasa bahwa nasi mulai menyingkirkan ubi dan sagu sebagai makanan pokok khas Papua. Padahal, produksi ubi manis di Papua Barat justru selama ini meningkat, sekitar 14.600 ton per tahun. Meningkatnya konsumsi beras tidak kemudian menghilangkan konsumsi pangan lokal Papua. Begitupun dengan sagu, pada bulan Agustus 2012 beroperasi pabrik Sagu PT Austindo Nusantara Jaya di Kabupaten Sorong Selatan, dengan luasan area usaha sagu sekitar 40.000 hektar.

Justru dengan masuknya beras ke Papua, ada kemajuan dalam produksi pangan Orang Asli Papua, dan memperluas pasar bagi komoditas lain seperti ubi dan sagu. Beras dibutuhkan karena kandungan kalori yang lebih tinggi daripada ubi, sedangkan ubi manis disukai karena memiliki rasa, sebagai variasi dari nasi untuk sumber karbohidrat bagi tubuh.

Perluasan pertanian dan pembangunan infrastruktur terbukti meningkatkan pendapatan Papua. Sepanjang tahun 2018, ekonomi Papua bertumbuh sebanyak 7,33%, tertinggi diantara 34 provinsi dan lebih tinggi dari rata-rata nasional. Industri pertanian dan pangan di Papua kini melebar karena penyebaran teknologi tani seperti hortikultur.

Lucunya, pemerintah Indonesia sendiri punya program untuk mengurangi konsumsi nasi nasional, dan memperkenalkan ubi dan sagu ke daerah-daerah lain di luar Papua. Program tersebut bernama One Day No RIce, atau sehari dalam seminggu tidak makan nasi. Sejak 2010, program ini diterapkan pada pegawai negeri di berbagai daerah, mulai dari Aceh, hingga akhirnya seluruh Sumatra, Pulau Jawa, dan Indonesia Timur.

Kini, pegawai negeri maupun masyarakat dianjurkan untuk mengonsumsi ubi dan sagu, mempopulerkan makanan pokok Papua ke Jawa, Sumatra, Kalimantan, dan pulau-pulau lainnya. Dalam perdagangan nasional ini, Papua diuntungkan sebagai produsen ubi, sagu, buah-buahan, dan beras sekaligus, karena kini Papua punya akses terhadap pasar domestik Indonesia.

Victor Yeimo, KNPB, dan para separatis Papua lainnya menggunakan berbagai gagasan untuk berkampanye menggalang dukungan politis. Seringkali, pembaca harus berhati-hati dalam memilah: gagasan mana yang baik untuk Papua, dan gagasan mana yang sebenarnya merugikan, dan hanya dicetuskan sebagai pendukung agenda separatisme saja.

Source:
http://technology-indonesia .com/pertanian-dan-pangan/inovasi-pertanian/suku-asli-papua-sandingkan-adat-dengan-inovasi-saat-tanam-padi/
https://regional.kompas .com/read/2012/06/25/03315919/Beras.Mengalir.Sagu.dan.Ubi.Tersingkir

Share Now!