Informasi Palsu Jadi Penyebab Utama Ricuh di Surabaya dan Papua?

14

Lepas Rusuh, Bupati Papua Pegang Bendera Bintang

Pembatasan internet di beberapa wilayah Papua menuai protes dari beberapa kalangan dan dinilai sebagai bentuk pelanggaran HAM.

Hal ini karena insiden di Surabaya dan Manokwari terjadi atas dasar provokasi hoaks dan informasi palsu yang tersebar di masyarakat. 

  1. Insiden Bendera Merah Putih Surabaya

Bermula dari tersebarnya pesan palsu di whatsapp terkait bendera merah putih yang dibuang ke selokan oleh mahasiswa Papua di Surabaya yang menyebabkan bentrok antara ormas dan mahasiswa.

Aparat kepolisian masih mencari pelaku perusakan bendera merah putih di insiden Surabaya dan siapa yang dengan sengaja menyebarkan informasi palsu di whatsapp.

  1. Rusuh di Manokwari Papua

Selain aksi protes atas ujaran kebencian oknum di insiden Surabaya terhadap mahasiswa Papua,

ada sejumlah informasi palsu yang menyebar di masyarakat Papua yang menyebabkan aksi berakhir ricuh

(17/8) Veronica Koman menyebarkan di akun twitternya tentang informasi palsu penangkapan terhadap 2 mahasiswa yang tengah mengantar makanan ke asrama Mahasiswa Papua di Surabaya

(19/8)  Kembali beredar informasi palsu terkait tewasnya mahasiswa Papua di Surabaya akibat pemukulan oleh aparat TNI-Polri

Akibat berita tersebut massa aksi yang telah melakukan unjuk rasa pada hari senin, (19/8/2019) kembali melanjutkan aksi turun ke jalan di berbagai kota di Papua hingga rabu (21/8/2019)

Aksi tersebut kemudian dimanfaatkan oleh kelompok ekstrimis dengan melakukan provokasi dan merusak sejumlah objek vital di bandara, kantor DPRD, kantor Bupati dan Pasar Thumburuni

Dalam aksi tersebut bendera bintang kejora juga turut dikibarkan dan membuktikan aksi solidaritas telah dikendalikan oleh kelompok ekstrimis Papua Merdeka.

Buntut dari kerusuhan Kominfo menyatakan untuk  sementara menutup akses internet di wilayah Papua dan Papua Barat sampai suasana kembali kondusif dan normal.

Share Now!